Wilujeng Sumpiiiiiiinggg.... ^-^

already two of us

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Fast track to walimah.. =)


Music

Jumat, 30 Oktober 2009

Ya Allah, ajari aku untuk tidak mencintainya dengan sebenar...

”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS 21: 35).

Hfff.. entah kenapa pasca-nikah, dzikrul maut saya makin meninggi.
Bukan.. bukan secara kualitas. Itu mah bagus.

Nah, yang jadi masalah adalah bahwa saya makin me-nakut-i maut tersebut.

Hmm, sindrom penganten baru kali yaa..
di setiap saat saya memandangi wajah-halal-memesona- tersebut sembari memuji kebesaranNya, saya merasa makin rapuh.., entah kenapa.
sungguh rapuh dan merasa bahwa saya tidak siap (atau setidaknya belum siap),
untuk kehilangan dia. suami saya.

Astaghfirullaah.., kalo udah kaya' gini saya cuma bisa istighfar banyak-banyak.
Karna hal tersebut menampar saya ke ayatNya yang lain:


"Katakanlah: "jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang
kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA
dan dari
berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.
." (9:24)


MasyaAllah, padahal jelas komitmen awal pernikahan kami
(insyaallah) adalah Islam,
'amal, da'wah, juga jihad..
Hiksss... gimana ya..
pernikahan jarak menengah
(soalnya cuma Depok-Bandung doang kepisahnya,
ga jauh-jauh amat siih..)
yang kita jalani sekarang,
rasanya udah gimannaa gitu kalo sepekan ga ketemu.

"Gerah"nya lebih lebih,
dibanding kalo sepekan ga halaqoh (hehehe.. ^^).

Apalagi kalo nanti dia bener-bener "pergi" yaaa?

ya Allah, sudah siapkah Tami?

Yah, siap ga siap, maut akan datang. ga bisa diduga bakal kapan.
entah saya atau dzaky terlebih dahulu.
Mungkin itulah sebabnya,
suami seringkali mengulang-ulang kalimat ini di awal-awal,
ketika jarak menengah ini menjadi begitu jengah bagi saya:

"Dhek, ini sama aja. Kita memang ga akan selamanya bareng di dunia ini.
Aku atau kamu bisa aja dipanggil Allah lebih dulu.
Anggep aja ini sebagai latihan,
supaya kita ga terlalu merasa saling memiliki.

Karna rumah kita memang bukan disini, sayang.. Tapi di syurga nanti.."

yah... biasanya kalo dia udah ngomong gitu,
saya malah jadi tambah ngejer nangisnya.. hehe

Tapi mungkin itulah salah satu hikmah dariNya,
yang mentaqdirkan kami menikah,
di usia yang masih sangat belia
(saya 19th dan suami baru saja 20th bulan ini).
Mungkin memang Allah ingin mengajari kami,
untuk belajar memaknai setiap titipanNya,
memang sebagai titipan semata. Ga buat dimiliki.
apalagi menolak kalo diminta kembali.

Karna, beneran deh, rasanya beda banget.
Dulu sebelum nikah, kaya'nya gampaaang banget cas-cis-cus
masalah titipan Allah. ikhlas. shabar.
Tapi setelah nikah.
ketika hidup benar-benar dibagi dan disentuh pertama kalinya oleh suami,
terkadang saya pun limbung dan merasa sangat tergantung dengannya.

Do'a saya pun berubah. Berulang saya khusyuk padaNya,
meminta agar Ia membatasi cinta ini untuk sang suami.
Agar saya tidak mencintai suami dengan kesungguhan yang berlebihan.
Agar saya menguar rasa cukup sekedar. tidak lebih. tidak kurang.



Dan saat ini. sembari memandangi wajah lelap suami,
lagi-lagi hati kecil saya meringkih padaNya:

Ya Allah, ajari aku untuk tidak mencintainya dengan sebenar..





Dzaky dan Tami
(bukan gambar sebenarnya,
karna yang aslinya, pasti lebih mesra.. hoho.. ^^)


Surat untuk (calon) permata hatiku..

Inilah salah satu manfaat ber-blog-walking-ria

yang -well- setelah cukup terlena (sangat) dengan facebook,

akhirnya saya pun (dengan sedikit senggolan suami ^^), kembali mencoba mencintai dunia ini lagi: blog!

Nih ada satu oleh2, hasil saya "jalan2". Diambil dari blog seorang brother (al-akh, istilah kerennya.. hehe), yang pernah satu kelompok dengan saya di sebuah "training tertentu", tapi ga saya ikutin sampe habis karna kadung sibuk dengan persiapan walimah Juli lalu

Slamat meni'mati,,,


Surat Untuk Calon Anakku

oleh Malik Zahri Senin, 30/03/2009 14:19 WIB

Teruntuk calon anakku
Yang masih tinggal di antara tulang sulbi dan tulang dadaku

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana kabarmu, Nak? Semoga Ananda sehat wal afiat di alam sana.

Ayahanda sengaja menulis surat ini khusus untukmu.
Meski Ayahanda tahu, kau belum bisa membaca dan membalas surat ini
Karena di sana memang tidak ada sekolah.
Namun, Ayahanda yakin kau memahaminya
Karena kita satu jiwa
Karena kau masih menyatu dalam tubuhku
Dan terutama,
Karena kau pasti cerdas seperti Ayahanda …. :-)

Nak !
Ayahanda sangat bergembira mendengar sabda Sang Baginda Rasul,
Tentang doa anak shaleh yang pahalanya tak terputus, bahkan sesudah orang tuanya wafat
Ayahanda tiba-tiba tersadar, sabda tersebut menuntut Ayahanda melakukan dua hal:
Menjadi anak shaleh dan menjadikan Ananda sebagai anak yang shaleh pula

Nak!
Ayahanda sedang berusaha menjadi anak shaleh untuk kakek dan nenekmu
Sulit memang, karena tiada amal ayahanda yang menandingi jasa mereka
Tapi Ayahanda akan terus berusaha
Tunaikan titah Baginda

Ayahanda pun berharap
Kau seperti itu untuk ayahbundamu kelak
Mencintai, menaati dan menghormati
Ibundamu ….. Ibundamu…… Ibundamu
juga Ayahandamu ini
Itulah mimpi Ayahanda
Sebagaimana mimpi menjadikan rumah kita nanti bagaikan syurga
Supaya syurga benar-benar menjadi rumah kita

Tapi, Ayahanda merasa malu
Ketika mendengar Khalifah kedua menyatakan
Bahwa hak seorang anak dari ayahnya setidaknya tiga hal:
Dipilihkan ibunda yang baik, Diberi nama yang baik serta diajarkan Al Qur’an.
Malu …..
Karena belum mempersiapkan diri
Untuk menunaikan hakmu

Nak!
Kini Ayahanda sedang belajar memperdalam Al Qur’an
Agar kelak bisa mengajarimu A… Ba… Tsa
Agar kaupun menjadi Qur’an berjalan
Yang menerangi mayapada

O ya!
Ayahanda juga sengaja membeli buku tentang nama-nama mulia
Dengannya, Ayahanda sudah menyiapkan selaksa nama indah untukmu
Agar kau tumbuh perkasa
Dinaungi nama mulia
Yang ia adalah doa

Yang membuat Ayahanda bingung,
Bagaiamana menunaikan hak pertama
yang harus ditunaikan ketika Ananda belum melihat dunia
Karena Ayahanda tidak tahu
Apa kriteriamu tentang seorang ibu yang baik?
Ayahanda juga tidak tahu
Apakah kita memiliki selera yang sama …. :-) ?

Tapi, Ayahanda yakin kau sepakat dengan satu kriteria
Bahwa calon ibumu nanti tidak boleh seorang yang shaleh
Melainkan harus seorang Shalehah

Karena jika kau memiliki Ibu yang Shaleh,
Sepertimu, Ayahandapun tak kan kuat menahan tawa
Melihat jenggot ibumu
Yang gagah jelita …… :-)

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang mencintaimu karena-Nya

Calon Ayahandamu


Okey, honey, jadi kapan kita jemput Hauraa', Faiz, Izam, Cenna, dan 'Aqilla nih?

hehe..


Allahumma hablana minasshalihiin..

Ini ceritanya anak aku dan Dzaky.. he he.. ada 5 tuh, pas! =)

Kamis, 29 Oktober 2009

Puisi pertama dari suamiku! ^-^

seorang aeronautical engineering selalu bekerja dalam kondisi kritis
mereka diajarkan untuk bekerja dalam toleransi yang sangat kecil.

mereka harus benar-benar menyiapkan agar suatu pesawat bukan hanya dapat terbang di udara
tetapi juga dapat mendarat kembali dengan selamat.

bukan hanya kerosen yang harus disiapkan jumlahnya,
tetapi juga profil sayap sebuah pesawat,
landing gear untuk mendarat,
tekanan udara didalam pesawat,
avionic system,
rudder untuk keseimbangan,
electrical system...
dan yang lainnya..

sama halnya seperti sebuah ikatan suci bersaksikanNya..

ikatan ini bukan hanya dipersiapkan untuk dapat terlaksana saat ini,
tetapi juga untuk dapat "mendarat" bersama di jannah sana....

bukan hanya semangat yang dibutuhkan,
tetapi juga ilmu,
kesabaran yang kuat,
dan juga rasa saling memahami

^^

-ada 179 km jalan tol diantara kita-

(Ahmad Dzaky Hanif, 2009)



...and I will take, u in my arms, and hold you rite, where u belong..
'till the day my life is through, this I promise u..
just close ur eyes, with each loving day..
I know this feelin' won't go away..
'till the day my life is through, this I promise u..
this I promise u...


mengenang 3 bulan, 1 pekan, dan 5 hari hari yang lalu,

semoga Allah makin ridha', amiin.. amiin..

^_^


Ssst.. ini snapshot saya dan suami saat LDKS OSIS kelas XII SMA dulu.
Entah-siapa-yang-ngambil, belum ada yang ngaku sampe sekarang
Ck ck... ga nyangka sekarang malah jadi suami istri! Hehe..

Kenapa pakai jilbab?

pernahkah terdengar olehmu atas kisah ini?

sesiang itu, seluruh pemuda dikumpulkan. yang menikah, yang bujang. yang menduda. semua.


apatah rupanya?


di siang cerah itu, kala mentari tengah riang memancar sinar kasihnya ke penjuru bumi..
Ia, disana. seorang pemuda Quraisy berdiri. tegap badannya. hitam rambut. putih kulitnya.
matanya lekas menatap para pemuda yang bergegas. subhanallaah santun nian tunduk kepalanya. Ia menatap ramah. gigi nya pun menyembul bersama satu senyum terindah yang pernah disaksikan jagad.

Ia: Rasulullaah SAW


Apatah?


rupa-rupanya turun kembali cintaNya melalui wahyu yang diusung oleh Sang Malaikat Penjinjing perintah.
Satu perintah memesona yang rasa-rasanya sungguh tak shabar untuk segera ia sampaikan pada mereka, ummat yang sangat ia cintai bahkan melebihi dirinya sendiri..


Lihatlah.. dadanya turun naik. nafasnya sedikit terengah. biji matanya kian bergerak menatap para lelaki muslim yang jumlahnya makin membanyak. mengumpul.
Allah..., ini ummatku.. cintai mereka.. , mungkin begitu haru birunya menyaksi para insan imani itu dengan cepat berkumpul selekas wahyu memanggil.


seketika semua melengkap.

Di sanalah ia daraskan lantunan syurga itu. turun langsung dariNya. untuk ummat yang begitu dicintaiNya.., Al-Ahzab: 59

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu'min, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka '. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang..


Allahuakbar! serempak takbir pun terucap. barisan bercerai. bubar.

kemanakah gerangan para pemuda itu?
ternyata mereka pulang!

semua berlari. mereka yang sudah memiliki istri. mereka yang punya adik atau kakak perempuan. mereka yang masih dalam asuhan seorang Ibu. semua. semua yang masih memiliki perempuan dalam anggota keluarganya. Ya! semua pemuda itu berlari! b-e-r-l-a-r-i!

sesampai di rumah. selepas mengucap salam. Masih dengan peluh yang tersisa di dahi. juga nafas terengah yang belum berhenti.

"Turun kembali panggilan cintaNya, duhai perempuan-perempuan mu'minah.." , ucap mereka dalam satu tarikan nafas..

Masih dalam lelah. Masih cepat jantung memompa darah.
mereka ucap ulang frase syurgawi itu..

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu'min, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang..


AllahuAkbar! kali ini pekik takbir nyaring yang terdengar di seluruh penjuru Madinah. Mereka, perempuan-perempuan itu , serta merta menarik segala kain yang ada di dekat mereka! apa saja! Ada yang menarik gorden, melepas taplak, mengambil kain, apa.. apa saja, yang penting bisa menutup apa yang Allah inginkan untuk mereka tutup!

Mereka, perempuan-perempuan itu , tak perlu bertanya dahulu, apakah makna perintah Allah yang satu itu. Pun tak banyak menggugat, dengan mengaju pendapat bahwasanya Allah begitu diskriminatif. Mereka tak banyak bicara. bahkan bertanya pun tidak!

Karena yang terpatri di lubuk hanyalah, "Jika Allah berkata begitu, maka begitu..
dan yang mereka fahami hanyalah satu: Bahwa Allah, bersamaku..


Maka mentari yang bergegas menjemput senjanya di hari itu, menjadi saksi.
saksi atas perempuan-perempuan itu ,
perempuan-perempuan yang bergegas menarik segala kain terdekat untuk bersegera dalam memenuhi satu panggilan cintaNya..

dan perempuan-perempuan itu ,
Ah ya.. mereka melakukannya dengan tersenyum sembari bersenandung,:
Dan jilbab adalah perhiasan..., yang mahkotanya menjuntai hingga ke dada.."



**************************

********************************************************



karena dengan jilbab, kau ajak sesama untuk semata menilaimu dari hati dan daya pikir, bukan dari indahnya rambut atau cantiknya kulit tubuh..

Karena dengan jilbab, kau yakinkan sesama bahwa kecintaan pada Yang Maha Mencinta mengalahkan kecintaanmu untuk menjadi dikagumi karena keindahan fisik semata

Karena dengan jilbab, kau teguhkan hati untuk meraih ridhaNya sekuat jiwa, meski dengan terbata mengeja kebaikan

Karena dengan jilbab, kau buktikan keberanianmu menunjukkan siapa dirimu sebenarnya, demi memenuhi satu jalan syukur pada Sang Maha Pemberi Segala


Karena dengan jilbab, kau nyaman mendekatiNya
Karena dengan jilbab, kau aman bersamaNya
Karena dengan jilbab, kau percaya, semua akan baik-baik saja..

(Yunda Fitrian, S.Psi)

**********************************************************************************

Tuh liat, yang kecil aja pake jilbab!
kamu, kapan? =)

Oktober keduapuluh lima itu...


Katakanlah saat itu kau dan aku, sama-sama punya banyak pilihan
Lalu tentang menikah ini, hanya menjadi salah satu pemikiran.

seperti kataku dan catatanku dulu,
kau memang tidak sama dengan lelaki pertama
yang tampan selayak Yusuf, tegap segagah Musa

kau pun tak seberbakat lelaki kedua,
yang pandai merangkai kata, menyisipkannya makna,
lalu membuatku merasa jadi wanita paling berharga sedunia

bahkan setelah menikah pun kurasa kau makin tak sama dengan kedua lelaki sebelumnya

kau hanya lelaki sederhana.
sesederhana datangmu tanpa membawa apa-apa.
sesederhana iman-mu merangkai kata cinta

kau hanya lelaki sederhana.
Namun itulah kesyukuranku yang besar kepadaNya.
karna aku tidaklah menikah dengan pria sempurna yang dapat hidup sendiri atas dirinya.

Kau lelaki sederhana.
Itulah mengapa kau butuh aku agar hidupmu sempurna.


Lalu di 3 bulan 7 hari ini, kita berjalan.
bergenggam tangan. berpeluk. tertawa.
Atau terkadang wajah menekuk. bibir mengerucut. menangis.


Dan kita saling banyak bercerita. bertukar peran.
membuka tabir-tabir atas diri. membiarkannya terbagi.

Dan kita pun makin sama tau,
betapa Allah mencipta kita dalam orbit yang sama sekali berbeda.
sangat tidak sama.


Kau bukan lelaki romantis,
yang sering melayangkan kata-kata manis.
Bahkan saat ku berikan mu panggilan sayang,
kau hanya tersenyum. tak balas merespon pinta ku untuk buatkanku panggilan sayang yang sama.

kau memang bukan lelaki romantis.
hingga di masa-masa awal bahtera ini,
aku sering menangis sendiri. isak dalam hati.
karna ku pikir sikap "dingin"mu,
mengisyaratkan makna tak sedalam kau mencintaiku,
sedalam ku mencintaimu..

Itu prasangka. Dan aku terlarut di dalamnya.


Lalu menjelang isya akhir ramadhan itu
ketika kau lihat aku yang lelah pulang kuliah.
selekasnya harus menyiapkan makan berbuka.
sayang, 'afwan, saat itu kupikir kau akan cuek seperti biasa.
tidak peka dengan tanda-tanda yang ada.

Tapi ketika tiba-tiba saja kau rengkuh aku untuk bersandar pada dirimu.
berbisik tanya lembut perihal kelelahanku.
kemudian menyilahkanku untuk tidur lebih dulu, dengan beberapa pekerjaan yang belum selesai.
aku terharu.
sungguh cinta , kau romantis.. sangat romantis..
hanya saja kau punya bahasa berbeda dengan mereka..
Dan caramu membahasakannya,
aku terharu... aku terharu..


Belakangan aku pun tau kau bukan tipe pria pemuji.
yang seringkali menyanjung sang istri.
tak pernah sekalipun kau menyebutku "cantik"
hingga aku pun kembali berprasangka.
aku tak cukup cantik untukmu , begitu pikirku.
Dan terkadang itu mengurai luka. seakan usahaku menghias diri bagimu tersia.

Itu prasangka. dan aku terlarut di dalamnya.


Kemudian di bulan kedua pernikahan kita.
saat ku sambangi engkau di Bandung.
bersengaja mengenakan warna kerudung yang kuanggap terbaik. yang paling menarik.
untukmu. hanya untukmu.

Dan kau pun bertindak seperti biasa.
menyambutku di Salman dengan senyum dan salim tangan.
biasa saja. seakan tak kau sadari ada penampilanku yang berbeda.

Hingga tiba masa ku mengganti jilbab itu dengan yang lain.
tiba-tiba saja kau berucap, memintaku untuk tetap menggunakan warna yang itu.
saat itulah ku tau, dengan senyum tertahan :p, bahwasanya kau sedang mencoba mengatakan betapa cantiknya aku di mata mu.

cinta , kau bukannya tak pandai memuji.
hanya saja bahasa mu berbeda..
dan caramu memujiku, cinta..
aku terharu.. aku terharu..


Tahukan cinta? , aku bahkan sempat berburuk sangka atasmu.
ketika liburan kemarin-awal minggu pernikahan kita,
kau melarangku untuk datang ke Bandung.
Padahal jengah bagi ku untuk tetap di sini tanpa ada aktivitas penting untuk dilaku.

Apakah kau tidak suka bersamaku? , begitu pikirku dulu.

sampai dengan bersikeras aku mendatangimu.
datang dengan prasangka yang bertambah-tambah.

Lalu kau menyambutku, -lagi-lagi seperti biasa-, hanya dengan senyum dan salim tangan.
tak ada yang istimewa. seakan kedatanganku bukanlah hal yang kau tunggu.

Namun ketika senja menutup hari dan matahari mengucap salam perginya.
kau bawa ku mengitari malam.
dengan sengaja membuat waktu berjalan lambat.
menarikku dalam peluk untuk waktu yang lama.
berucap betapa kau menanti pertemuan ini.

Saat itulah ku tau cinta,
kau senang ada bersama ku.
Dan kau rindu. sama seperti ku.
hanya saja kau punya bahasa yang berbeda.
Dan caramu mengatakan, betapa kau rindu aku;
cinta , aku terharu.. aku terharu.



aku pun sering cerewet mengucap banyak pinta,
Dan salah satunya adalah pergi ke Boscha.

kau tak pernah menggubrisnya.
membicarakannya pun tidak.
lagi-lagi responmu tak jauh dari tersenyum tiap aku meminta.
Lalu berkata bahwa untuk saat ini, kita belum bisa pergi ke sana.

Saat itu aku kesal. sangat.
karna bagiku, pintamu selalu jadi yang utama.
maka kognisi ku pun membuat ekspektasi bahwa kau kan perlakukan pintaku sama.

ku pikir kau tak peduli.
untuk menyenangkanku, kau seakan tak ada intensi.
aku pun mulai membanding-banding.
atas mu dengan suami-suami yang lain.
mengapa kau begini, mengapa begitu. mengapa berbeda.

Hingga Allah yang menegurku lembut.
ketika datang waktunya aku pergi lagi ke kotamu.
kau tak mengajakku menginap di tempat biasa.
entah kemana, malam itu kau bawa ku membelah malam.
menyusuri jalan dan dingin malam.
hingga sampai di sebuah bukit.
bukit penuh bintang dan cahaya kota Bandung.

ketika itu kau memang tidak mengatakan inilah usahamu memenuhi inginku.
seperti biasa, respon mu hanya tersenyum. seraya menatapku yang sedang memandang langit bercahaya di atas kita.

saat itulah ku tau cinta,
kau memikirkan pintaku.
Dan kau memenuhinya.
Meski tidak sama, namun kau buatnya jauh lebih sempurna.
terimakasih cinta.. terimakasih..
aku terharu.. sungguh..


kemudian untuk 3 bulan 7 hari ini,
terkadang kita berebut kemudi, bertukar cubit, gelitik, lalu lari
juga menyemangati. berpegang erat. membiar rindu memeluk rindu. senyum mendekap senyum.
bersyukur atas satu rahmatNya, bahwa jarak jauh ini, justru membuat kita slalu ingin bertemu dalam kondisi terbaik.
Dan kita pun tertawa dengan tulus. merentang tangan menyambut pagi. Dan siap kembali menjala hari.
saling menyedia bahu untuk disandar. tangan untuk digenggam.

Untuk 3 bulan 7 hari ini,
tak jarang ego pun mengalahkan segalanya.
disuatu ketika,
saat suara kita tidak sedang sama dan bulat tak senada..
saat emosi meninggi dan kita tidak bernyanyi dalam satu melodi..
saat angkuh membuat kita tidak saling merengkuh..
saat duka membuat kita lupa bahwa kita juga pernah hidup dalam suka..
saat prasangka membuat kita jatuh kedalam lembah menerka-nerka..
Lalu kita menangis kesal.
namun sejatinya tetap berpeluk erat. sebab sama tau hanya satu sama lainlah yang mampu menentramkan.

Dan hari ini,
bertambah satu angka usiamu.
telah kau insyafkan betapa aku menikahi manusia.
yang tak luput dari salah kata atau gaya.
aku pun tersadar dengan segala ekspektasi ku tentangmu.
bahwasanya aku pun belum menjadi istri sebaik itu.
meski telah kukerahkan segala cinta dan daya diri
tak pernah utuh aku menjadi istri
sebagaimana kau rasakan aibku di sana-sini

tapi hari ini bertambah satu angka usiamu,
dan tiada berharga yang bisa kuberikan
selain do'a yang sebenarnya tiap hari kulantunkan
Do'a berisi banyak pinta.
namun ia rahasia. biar Allah sendiri yang menjaganya.
Lirihku pintaku padaNya yang tersembunyi.
biar.. biar ia menjadi sebaik-baik do'a..

bertambah satu angka umurmu, cinta..
bertambah pula hari kita menyusuri jalan kupu-kupu.
menjala langit. menanti pelangi.

Semoga Allah kekalkan ikatan ini, hingga kelak
masing-masing dari kita tak merasa perlu akan bidadari-bidadara syurga..
cukupkan dengan engkau saja..sang separuh jiwa...



Lalu teruntuk engkau, Ksatria ku, Ahmad Dzaky Hanif..
untuk keshabaran yang begitu besar, pengertian yang begitu luas, kelapangan yang rasa-rasanya tak pernah habis,
Jazakallah bil jannah... ,
semoga Allah haramkan dirimu dari api neraka atas kebahagiaan yang tak pernah habis kau curahkan..

Dan sayup-sayup,
mp3ku pun memutar lagu itu..

bagaimana..., bila akhirnya ku cinta kau, dari kekuranganmu.., hingga lebihmu...


Sungguh,
aku mencintaimu..
Lillah.. Fillah.. karena Allah..






N.b., terimakasih untuk Salim A.Fillah, Bang Ivan Ahda, dan Teh Heggy Kearen's, atas notes kalian yang menginspirasi. izinkan saya mengutip beberapa kata. memparafrasekan beberapa makna. semoga ridha'...

Hujan bulan Juni



Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Darmono, 1989)


Do you know what so special about June?

Di bulan Juni-lah aku dipertemukan oleh Allah dengannya,

Ahmad Dzaky Hanif, seorang yang kini menjadi separuh nafas dan agamaku..

^-^

Do'a ku shubuh ini..


Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu..