”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS 21: 35).
Hfff.. entah kenapa pasca-nikah, dzikrul maut saya makin meninggi.
Bukan.. bukan secara kualitas. Itu mah bagus.
Nah, yang jadi masalah adalah bahwa saya makin me-nakut-i maut tersebut.
Hmm, sindrom penganten baru kali yaa..
di setiap saat saya memandangi wajah-halal-memesona- tersebut sembari memuji kebesaranNya, saya merasa makin rapuh.., entah kenapa.
sungguh rapuh dan merasa bahwa saya tidak siap (atau setidaknya belum siap),
untuk kehilangan dia. suami saya.
Astaghfirullaah.., kalo udah kaya' gini saya cuma bisa istighfar banyak-banyak.
Karna hal tersebut menampar saya ke ayatNya yang lain:
"Katakanlah: "jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang
kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA
dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.." (9:24)
MasyaAllah, padahal jelas komitmen awal pernikahan kami
(insyaallah) adalah Islam, 'amal, da'wah, juga jihad..
Hiksss... gimana ya..
pernikahan jarak menengah
(soalnya cuma Depok-Bandung doang kepisahnya,ga jauh-jauh amat siih..)
yang kita jalani sekarang,
rasanya udah gimannaa gitu kalo sepekan ga ketemu.
"Gerah"nya lebih lebih,
dibanding kalo sepekan ga halaqoh (hehehe.. ^^).
Apalagi kalo nanti dia bener-bener "pergi" yaaa?
ya Allah, sudah siapkah Tami?
Yah, siap ga siap, maut akan datang. ga bisa diduga bakal kapan.
entah saya atau dzaky terlebih dahulu.
Mungkin itulah sebabnya,
suami seringkali mengulang-ulang kalimat ini di awal-awal,
ketika jarak menengah ini menjadi begitu jengah bagi saya:
"Dhek, ini sama aja. Kita memang ga akan selamanya bareng di dunia ini.
Aku atau kamu bisa aja dipanggil Allah lebih dulu. Anggep aja ini sebagai latihan,
supaya kita ga terlalu merasa saling memiliki.
Karna rumah kita memang bukan disini, sayang.. Tapi di syurga nanti.."
yah... biasanya kalo dia udah ngomong gitu,
saya malah jadi tambah ngejer nangisnya.. hehe
Tapi mungkin itulah salah satu hikmah dariNya,
yang mentaqdirkan kami menikah,
di usia yang masih sangat belia
(saya 19th dan suami baru saja 20th bulan ini).
Mungkin memang Allah ingin mengajari kami,
untuk belajar memaknai setiap titipanNya,
memang sebagai titipan semata. Ga buat dimiliki.
apalagi menolak kalo diminta kembali.
Karna, beneran deh, rasanya beda banget.
Dulu sebelum nikah, kaya'nya gampaaang banget cas-cis-cus
masalah titipan Allah. ikhlas. shabar.
Tapi setelah nikah.
ketika hidup benar-benar dibagi dan disentuh pertama kalinya oleh suami,
terkadang saya pun limbung dan merasa sangat tergantung dengannya.
Do'a saya pun berubah. Berulang saya khusyuk padaNya,
meminta agar Ia membatasi cinta ini untuk sang suami.
Agar saya tidak mencintai suami dengan kesungguhan yang berlebihan.
Agar saya menguar rasa cukup sekedar. tidak lebih. tidak kurang.
Dan saat ini. sembari memandangi wajah lelap suami,
lagi-lagi hati kecil saya meringkih padaNya:
Ya Allah, ajari aku untuk tidak mencintainya dengan sebenar..


















0 komentar:
Posting Komentar